Sepak Bola

Sepakbola Dan Orientasi Seksualitas LGBT

4.8K
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Sebagai olahraga paling digemari diseluruh penjuru dunia, sepak bola bukan hanya sekedar permainan antara sebelasmelawan sebelas. Permainan yang populer dengan laki-laki dan kejantanan ini mulai berkembang menjadi dunia industri,politik, hingga media kampanye yang dihiasi simbol-simbol tertentu.

Sepak bola dewasa ini juga kerap menjadi media untuk menyampaikan aspirasi, melalui tulisan, gambar, hingga nada-nada yang berbau rasis. Tidak jarang kita mendengar berita tentang perkelahian antar pendukung tim dan kematian yang disebabkan kebanggaan dan historis yang telah mengakar.

Namun sejatinya, sepak bola merupakan alat yang mampu menyatukan berbagai unsur tanpa memandang ras, agama, suku, dan jeniskelamin. Seperti yang terjadi pada 2015 silam, ketika Mahkama Agung Amerika mengakui adanya perkawinan sesama jenis.

Sebagai negara yang mempunyai andil besar dalam isu-isu dunia, berita ini menjadi perbincangan kontorversial tak terkecuali dalam dunia sepak bola. Dalam laman Daily Mail (18/9/2016) Chriss Sutton, legenda Blackburn Rovers mengatakan bahwa sepak bola sehaursnya siap dengan pemain yang ber-orientasi seksual sesama jenis atau gay. Ia tidak setuju dengan pendapat yang dikemukakan ketua FIFA, Greg Clarke bahwa para pemain akan mendapat pelecehan bila mengaku sebagai seorang gay.

Memang orientasi terhadap perkawinan sesama jenis masih menjadi histeria dan hal yang tabu untuk dapat diterima begitu saja. Seperti yang dilakukan mantan pemain Leeds United, Robbie Rogers. Dalam akun keterangan di akun twitternya, ia mengakui bahwa dirinya merupakan seorang gay dan saat itu pula ia memtuskan langsung berhenti dari dunia sepak bola karena atmosfer sepak bola inggris yang sangat tidak bersahabat terhadap mereka yang berorientasi seksual sesama jenis atau homophobia.

“Selama 25 tahun, saya mengalami ketakutan, yaitu takut menunjukkan jati diri saya sebenarnya. Robbie Rogers, pemain timnas AS dan mantan pemain Leeds United.”

Namun secara masif LGBT dan sepak bola inggris mulai melakukan kampanye dalam pertandingan, dengan tujuan agar LGBT mendapat hak yang samadalam sepak bola. Seperti yang dilakukan Arsenal, Liverpool dan Manchester City beserta suporter dari kedua tim tersebut yang mendukung adanya kesetaraan terhadap kaum yang berlatar belakang kesetaraan bagi kaum LGBT.

Mereka menjalankan kampanye yang dinamakan “Rainbow Laces” atau tali sepatu pelangi. Kampanye ini mereka lakukan dengan penggunaan atribut dengan warna dasar pelangi yang identik dengan simbol LGBT, seperti tali sepatu pelangi, ban kapten, hingga bendera lapangan yang berwarna pelangi.

Selain itu, pihak pemyelenggara juga secara terang-terangan memberikan dukungan terhadap kaum yang tidak diterima masyarakat tersebut. Melalui atribut dan instrumen-instrumen pendukung pertandingan, mereka menyertakan multi warna yang  menandakan bahwa LGBT ada dan harus diterima di dalam stadion.

Hal ini bertujuan agar para supporter dan pemain mendapat kepercayaan dan merasakan adanya kesetaraan. Dalam kampanyenya tersebut, para supporter penggagas seperti Gay Gooners (Arsenal) dan canal Streets Blues (Manchester City) pun turut mendukung langsung tim kebanggaannya dengan membawa pesan kesetaraan yang mereka idam-idamkan.

Tapi hal-hal semacam ini bukannya tanpa kontroversial. Banyak fans-fans dari belahan dunia lain, yang secara spesifik tidak bertempat tinggal di Inggris justru menolak adanya kampanye untuk membiasakan LGBT ditengah masyarakat. Suporter-suporter tersebut  menolak dan bahkan menyerukan boikot untuk mendukung tim-tim asal inggris tersebut meskipun di layar kaca.

Ide tersebut banyak mereka teriakan lewat jejaring sosiak media seperti Twitter, instagram dan juga facebook. Pertanyaanya, apakah Sepakbola mampu membaur keresahan mengenai LGBT di masyarakat duni seperti sekarang ini?

Baca juga: Laga Perpisahan Wazza, Inggris Tekuk Amerika Serikat

 

COMMENT
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Comments

Terpopuler

To Top