iSports.id
Sepak Bola Liga Italia Sepak Bola Dunia

Klub Serie C, Como 1907 Diambil Alih Orang Indonesia

iSports.id – Kembali lagi orang Indonesia menjajaki Liga Serie A Italia sebagai pemilik klub. Setelah sempat beberapa tahun sebelumnya Erick Tohir mengakuisisi Inter Milan, kali ini giliran Klub Serie C, Como 1907 yang di miliki pengusaha besar Indonesia.

Tangan Indonesia

Como kini menjadi perbincangan banyak pecinta sepak bola Tanah Air usai dibeli oleh Djarum Grup melalui melalui SENT Entertainment LTD. Sent Entertainment sendiri merupakan perusahaan media yang berbasis di London Inggris. Mereka disokong oleh dua pengusaha asal Indonesia yakni Michael Bambang dan Robert Budi Hartono. Budi Hartono merupakan pemilik Djarum dan masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan Rp 461 triliun

Como yang saat ini masih berkutat di Serie C tersandung banyak masalah sebelum diakusisi oleh Sent Entertainment. Manajemen serta insfrastruktur mereka terbilang buruk, bahkan Manajemen klub sangat bermasalah dan memiliki banyak utang dengan berbagai pihak. “Kita beli gak sampai Rp 5 miliar. Istilahnya nebus di pegadaian,” kata Mirwan Suwarso, perwakilan Mola TV yang merupakan salah satu usaha milik Djarum.

Lebih lanjut Petualangan dan perjuangan Como 1907 akan diangkat ke layar kaca dalam bentuk film dokumenter yang akan tayang di Mola TV dengan judul The American: Como 1907. Dalam tayangan singkat film tersebut, kondisi Como pantas dibilang memprihatinkan. Stadion Giuseppe Sinigaglia, yang berkapasitas 13.602 tempat duduk, memiliki kualitas lapangan yang buruk untuk sebuah klub di Italia. Terlihat juga ada bagian atap yang terkelupas catnya.

Baca juga: Diproyeksi Menggantikan Messi, Ansu Fati Dipagari Barca

Berbenah

Keadaan yang buruk ini tidak berlangsung lama, setelah diakuisisi Como langsung berbenah. Dikutip dari Corriere Como, untuk memperbaiki kondisi ini, pemilik baru Como tersebut langsung menunjuk Michael Gandler sebagai CEO Klub. Gandler sendiri cukup berpengalaman di bidang industri sepak bola. Ia merupakan mantan wakil Presiden Major League Soccer (MLS). Ia tujuh tahun menduduki posisi tersebut dan mengembangkan liga kasta tertinggi di Amerika Serikat ini menjadi sebuah bisnis besar saat ini.

Gandler juga punya pengalaman cukup baik bekerja dengan orang Indonesia. Ia pernah bekerja di Inter Milan di era kepemimpinan Erick Thohir ketika bertugas sebagai Kepala Bagain Pendapatan klub. Melihat rekam jejak Grandler, Como tampaknya sangat fokus untuk mengembangkan sisi bisnis mereka. Pria asal Amerika Serikat itu bertekad membangkitkan kembali antusiasme para pendukung Como dan membantu klub agar lebih dikenal secara global.

Masa kejayaan Como berlangsung pada periode 1984-1989, kala mereka mampu bertahan di Serie A selama lima musim. Pencapaian tertingginya adalah menduduki peringkat kesembilan di tahun 1986. Di awal abad ke-21, Como sempat dinyatakan bangkrut pada tahun 2004 dan terlempar ke Serie D. Klub ini kembali dinyatakan gulung tikar pada musim 2016-2017. Uniknya Como sempat dibeli oleh istri Michael Essien, Akosua Puni Essien, pada perlelangan tahun 2017. Namun klub tersebut gagal memenuhi syarat untuk masuk kembali ke liga profesional Italia.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, untuk apakah seorang pengusaha besar Indonesia membeli sebuah klub di Italia. Bukankah lebih baik mengelola klub di tanah air sendiri. Ternyata ada niatan lain dibalik pembelian Como. Tujuannya ini untuk rumah pelatihan Tim Garuda Select. Garuda Select merupakan program akselerasi pengembangan usia muda hasil kolaborasi PSSI dengan grup Djarum. Sudah mengirim dua angkatan, anak-anak yang terpilih dalam program ini dikirim berlatih langsung di Inggris.

Baca juga: Baby Mourinho Gantikan Babyface Assasin?

 

Sumber: berbagai sumber
Foto: berbagai sumber

Related posts

Inggris Cukur Bulgaria di Jeda Internasional

Muhammad Rifqi

Niko Kovac Resmi Dipecat Bayern Muenchen

Muhammad Rifqi

Anderlecht Kena Denda karena Vincent Kompany

Muhammad Rifqi

Leave a Comment