iSports.id
Sepak Bola Sepak Bola Dunia

Sejarah Berdarah Escobar

ADA YANG TAHU SOAL ANDRES ESCOBAR? BAGI PENGGEMAR SEPAK BOLA MILLENIAL NAMA ESCOBAR BEGITU ASING DI TELINGA. NAMUN BAGI PENGGEMAR SEPAK BOLA MEDIO 90-AN NAMA ESCOBAR SANGAT FAMILIAR TERKAIT AKSI PEMBUNUHAN DIRINYA

iSports.id – 13 maret seharusnya menjadi hari yang sangat spesial bagi pria bernama Andres Escobar Saldariagga. Tepat pada hari ini pria kelahiran Medellin (Kolombia) ini harusnya berulang tahun yang ke -52. Tetapi takdir berkata lain, Escobar harus terbunuh oleh aksi penembakan tepat ketika ia pulang dari helatan Piala Dunia 1994.

Kejadian berawal ketika Kolombia berlaga dalam babak kualifikasi Piala Dunia 1994. Timnas Kolombia secara mengesankan tampil tidak terkalahkan dalam lima pertandingan kualifikasi dan hanya kebobolan dua gol. La Tricolor memastikan melaju ke Amerika Serikat (tuan rumah Piala Dunia 1994) setelah mengalahkan Argentina di Buenos Aires dengan skor mencolok 0-5. Hasil ini dirayakan secara luar biasa di Kolombia. Perayaan besar-besaran yang cenderung ke arah rusuh terjadi. Beberapa orang bahkan terbunuh dan lainnya terluka dalam pesta pora tersebut.

Tim Kolumbia periode 1994

Sudah menjadi rahasia umum jika Kolombia di era 90-an penuh sejarah berdarah. Kekuasaan kartel dan kriminal sindikat narkoba sangat kental di sana. Gembong narkoba paling kuat kala itu, Pablo Escobar (Kartel Medellin), sangat mengikuti perkembangan Timnas Kolombia. Dari tempat persembunyiannya ia menyalurkan dana bagi Timnas Kolombia lewat koneksinya di Atletico Nacional.

Keikutsertaan Pablo Escobar dalam Timnas Kolumbia semakin memperbanyak tekanan

Singkat cerita, Kartel Medellin ambruk melawan pasukan khusus Search Bloc. Lalu kartel-kartel lainnya, seperti Kartel Cali, mulai unjuk gigi. Pada tahun inilah peristiwa-peristiwa berdarah semakin gencar di Kolombia. Dengan latar belakang inilah Timnas Kolombia berangkat ke perhelatan Piala Dunia 1994. Beban yang begitu berat dipikul oleh Andres Escobar dan kolega. Pendukung Timnas Kolombia sangat berharap Timnas mereka bisa berbuat banyak di Piala Dunia. Terlebih ternyata fans Timnas Kolombia di dominasi dari Kartel Cali.

PENAMPILAN BURUK

Kolombia yang tampil beringas diprediksi bisa menjadi kuda hitam di Piala Dunia 1994. Legenda Brasil, Pele bahkan tak sungkan memprediksi Kolombia minimal mencapai semifinal di turnamen itu.

Seperti kata pepatah, ‘hidup punya caranya tersendiri untuk menuju jalan tragedi’, maka takdir sesungguhnya Timnas Kolombia pun mulai terkuak. Pada pertandingan pembuka Kolombia harus bertekuk lutut melawan Rumania yang dipimpin oleh George Haghi. Pada pertandingan itu Kolombia secara memalukan dikalahkan dengan skor 3-1.

Penampilan Kolombia jauh dari kata memuaskan. Tim yang memenangkan pertandingan atas Argentina tidak tampak sama sekali. Konon pada pertandingan awal ini beredar rumor jika pemilihan pemain oleh pelatih kepala Francisco Maturana adanya campur tangan beberapa kartel narkoba.

Escobar dan kolega tidak menunjukkan performa memuaskan di awal kompetisi

Kekalahan atas Rumania memberikan tekanan yang semakin hebat kepada Timnas Kolombia. Carlos Valderama dan kolega seakan terus dituntut harus menang di pertandingan berikutnya.

Pada laga berikutnya benar-benar menjadi pertandingan hidup dan mati mereka. Padahal lawan yang dihadapi tidak mudah, yaitu Timnas AS (tuan rumah). Jika kalah maka akan menjadi petaka bagi para pemain. Mereka harus siap menghadapi kemurkaan bengis kartel di kampung halamannya.

Tekanan menjadi semakin besar ketika tersiar kabar bahwa sindikat perjudian di Negeri paman Sam dan Kolombia bertaruh jutaan dollar untuk berbagai macam hasil akhir pertandingan. Para pemain Kolombia semakin terjepit dalam kondisi yang tidak mengenakan.

Dengan beban inilah mereka tampil di lapangan. Yang pada akhirnya, beratnya tekanan itu pula yang membuat La Tricolor ambruk. Mereka takluk 2-1.

Bermain seadanya, permainan Kolombia jauh dari apa yang diharapkan publik. Pemain bertahan AS, Fernando Clavijo mengatakan para penyerang Kolombia seperti bermain dengan setengah hati.

Penampilan buruk itu dilengkapi dengan gol bunuh diri yang dilakukan kapten mereka pada awal laga, Andres Escobar. Sang kapten yang mencoba mengantisipasi umpan silang John Harkes dengan posisi kaki merentang malah menceploskan bola ke gawang sendiri. Semakin terpuruklah nasib Kolombia.

Gol bunuh diri Escobar meruntuhkan mental para pemain Kolombia

Sebelum perhelatan ini Andres Escobar dikenal sebagai pemain bertahan yang tangguh. Karier sepak bola Escobar muda dimulai di Atletico Nacional. Walau sempat bermain sebentar bersama BSC Young Boys (Swiss), ia akhirnya kembali ke pangkuan Atletico Nacional. Semasa bermain ia dijuluki The Gentleman karena permainannya yang penuh ketenangan dan elegan. Namun hal itu tidak tampak sama sekali ketika ia berlaga di Piala Dunia 1994.

Walau menang di pertandingan terakhir, Kolumbia tetap harus pulang dengan rasa kecewa

Pada laga berikutnya Kolombia mencetak kemenangan yang tidak berarti, karena di lain pihak Rumania mengandaskan AS. Maka resmilah mereka tersingkir di fase grup Piala Dunia 1994 dan harus pulang dengan tertunduk lesu.

baca juga : malaikat firenze

MALAM BERDARAH

Sesudah Kolombia diharuskan pulang, sebenarnya Andres Escobar ditawari untuk tinggal lebih lama di AS, mengingat kondisi di kolombia yang belum kondusif. Namun sang kapten menampik tawaran ini, dan merasa percaya diri bahwa dirinya akan disambut dengan penuh hormat di kampung halaman. Enam hari setelah Escobar pulang kampung (1 juli1994), ia mengunjungi kelab malam El indio bersama beberapa temannya.

Di kelab malam inilah Escobar bertengkar hebat dengan sekelompok pria di tempat parkir pada subuh hari. Mereka menyebut bahwa kegagalan kolombia di Piala Dunia adalah kesalahan Escobar. Perseteruan semakin meningkat tensinya kala para pria yang menyerang Escobar mengeluarkan pistol. Mereka menembaknya sebanyak enam kali seraya mengucapkan “Thanks for The own Goal Hijueputa!”, yang artinya terimakasih atas gol bunuh dirinya, anak pela**r. Pada setiap peluru yang ditembakkan, mereka meneriakkan “Gooool” khas komentator Amerika Latin.

Andres Escobar bersama Rene Higuita dan Carlos Valderama menjadi ikon sepak bola Kolombia

Setelah menembaki Escobar, para pelaku ini melarikan diri. Esok malamnya pihak kepolisian berhasil menangkap pelaku yang bernama Humberto Munoz, yang merupakan kaki tangan Santiago Gallon (bos kartel). Mereka dendam dengan Escobar karena kalah taruhan pada Piala Dunia 1994. Munoz dihukum 43 tahun kurungan penjara atas aksi pembunuhan ini.

ELEGI ESCOBAR

Setelah kematiannya, selalu ada peringatan dalam mengenang kematiannya di Kolombia

Kematian Escobar menjadi duka bagi seluruh Kolombia. Sekitar 12000 orang datang menghadiri pemakamannya. Escobar menjadi pahlawan dan simbol bagi sepak bola Kolombia. Escobar pergi meninggalkan pesan terakhir  yang sangat tragis

“Hidup tak berhenti di sini. Kita harus terus berjalan. Hidup tak boleh berhenti di sini. Tak peduli seberapa sulit, kita harus bangkit. Kita cuma punya dua pilihan : membiarkan kemarahan melumpuhkan kita dan kekerasan berlanjut, atau kita menaklukannya dan mencoba yang terbaik untuk membantu orang lain.”

“Itu Pilihan kita. Mari kita menjaga rasa hormat. Salam terhangatku untuk semuanya. Ini sudah menjadi pengalaman yang paling menakjubkan dan langka. Kita akan berjumpa lagi segera, karena hidup tidak berhenti di sini.” – Andres Escobar

Selamat ulang tahun, istirahat dengan tenang Andres Escobar

baca juga : Paradinha dan Keunikan penalti Jorginho

Sumber : berbagai sumber

Foto : berbagai sumber

Related posts

Lyon Terbuka untuk Mourinho

Muhammad Rifqi

Icardi Siap Comeback Untuk Inter

Khairul Ardhi

Chelsea Buat Tottenham Pulang Tanpa Poin

Muhammad Rifqi

Leave a Comment