iSports.id
Sepak Bola Sepak Bola Dunia

Malaikat Firenze

iSports.id – 26 November 2000 menjadi hari yang haru biru bagi seorang bernama Gabriel Omar Batistuta. Bagaimana tidak, perasaannya bercampur aduk di saat ia harus menghujam gol kemenangan AS Roma ke gawang mantan tim kesayangannya, Fiorentina.

HANYA UNTUK FIORENTINA

Semua kisah ini berawal ketika bocah argentina itu bermain membela Tim Tango di kompetisi Copa America 1991. Aksi-aksi impresifnya begitu memukau semua mata penikmat sepakbola. Kejuaraan yang dihelat di Chile tersebut menarik perhatian banyak kalangan, tak terkecuali manajemen Fiorentina.

Pada turnamen itu, pria yang akrab disapa Batigol ini menjadi andalan pelatih Argentina kala itu Alfio Basile. Batigol sukses mengantar La Albiceleste menjadi kampiun, sekaligus menjadi top skor dengan raihan enam gol.

Aksi Batistuta muda saat berhadapan dengan Chilie di Coppa America 1991

Fiorentina tidak sendirian, banyak klub-klub top Eropa yang mengantri untuk meminangnya dari Boca Juniors. Tercatat Barcelona, Real Madrid, dan Manchester United kepincut untuk memakai jasanya. Namun apa daya, hatinya terpikat dengan kota indah bernama Firenze.

Dalam hal ini sebenarnya Batistuta bisa saja menerima pinangan Real Madrid atau Manchester United yang notabene lebih besar secara kredibilitas dan kemampuan menggaji. Namun ternyata dia lebih memilih apa yang ditawarkan Fiorentina.

“Saya lebih suka ketenangan bermain untuk Firoentina. Jika saya pergi ke Madrid saya akan mencetak lebih dari 200 gol. Tapi saya tahu, saya akan merasa bosan.” –Gabriel Batistuta

Batistuta saat diperkenalkan ke publik Firenze

Pelatih legendaris Manchester United Sir Alex Ferguson pun turut menyesali dirinya tidak pernah mampu mengangkut Batigol ke Old Trafford. “Saya adalah pengagum Batistuta. Saya sudah lama menginginkan dia” ungkap Fergie. Keputusan La Viola membawa Batigol ke Artemio Franchi tidak salah. Sang striker langsung menunjukkan kelasnya sebagai predator kelas wahid. Penampilan moncernya dibuktikan dengan jumlah 13 gol dan membawa Fiorentina lolos dari degradasi pada musim perdananya.

PAHIT MANIS BERSAMA LA VIOLA

Seri A Musim 1993/1994 menjadi batu sandungan dalam karier Batigol. Fiorentina terdegradasi ke Serie B. Namun sang striker tetap bertahan, cintanya pada klub tidak pernah memupuskan semangatnya. Bersama Claudio Ranieri sebagai pelatih kepala, pria yang pada awalnya bermain sebagai pemain basket ini mampu mebawa La Viola terbang kembali ke Seri A. Musim berikutnya? Fiorentina begitu memukau.

Penampilan perdana Batigol begitu memukau, dan mampu menyelamatkan La Viola dari degradasi

Bersama Sandro Cois, Rui Costa, Anselmo Robbiati, Batigol menjadi tulang punggung tim dan membawa Si ungu menjadi anggota Il Sette Magnifico (tujuh klub terbaik Serie A). Pada musim itu tercatat Batigol menjadi capocanieri (pencetak gol terbanyak liga Italia) dengan torehan 26 gol. Kilau ayah tiga anak ini bersama si ungu terus berlanjut, Trofi Copa Italia 1995/96 dan Supercopanna Italia berhasil mereka gondol. Atas jasanya para fans La Viola pun mempersembahkan patung perunggu Batistuta.

Skuat Fiorentina saat berkiprah di Serie A

Presensi pria yang genap berusia 50 tahun 1 februari silam menjadi sangat krusial bagi La Viola dari waktu ke waktu. Kepala dan kakinya seolah tidak ingin berhenti mencetak gol. Total selama sembilan musim ia berseragam ungu, Batigol selalu mencetak lebih dari dua digit gol. Dari data yang saya ambil di transfermarkt, ia suskes mencatat 203 gol dalam 330 penampilan. Fantastis!

BUTUH SCUDETTO

Terlepas dari ratusan gol dan kebersamaan manis dengan Fiorentina, Batistuta tak kunjung mendapatkan apa yang ia dambakan. Gelar Scudetto.

Kala itu AS Roma yang di latih oleh Fabio Capello sedang mengincar scudetto dengan gencar. Don Fabio merasa Batigol adalah potongan puzle terakhir yang ia butuhkan untuk membawa Roma menjadi juara liga Italia. Capello begitu ngotot meminang Batigol dari Fiorentina, hal ini ia sampaikan kepada Presiden Roma kala itu Franco Sensi. Namun Sensi menolak ide ini. Tidak habis ide, Don Fabio bersama Franco Baldini (Direktur sepak bola Roma) mencari cara lain.

Fabio Capello sukses membujuk Batistuta untuk pindah ke AS Roma

Mereka berdua bersekutu dengan Mario Sconcerti (editor surat kabar Corielle dello Sport) untuk memuat kabar niatan AS Roma meminang Batistuta. Dalam berita tersebut Sconserti dengan semangat membahas bagaimana Batistuta nantinya akan bisa bekerja sama dengan baik bersama Totti dan Montella. Alhasil kisah inilah yang membuat warga Roma sumringah, lalu Sensi mau tidak mau bergerak melakukan pembelian.

Tidak mudah sebenarnya bagi Batigol meninggalkan klub yang ia cintai. Tahun-tahun penuh pertimbangan ia lewati. Namun keinginannya meraih scudetto akhirnya ia prioritaskan. Mahar 35 juta pound menjadi nilai pembelian Batistuta dari Firenze. Nilai ini menjadi angka tertinggi bagi pemain yang berusia diatas 30 tahun kala itu. I Gialorossi senang bukan kepalang. Dampak instan langsung diberikan Batigol terhadap performa Serigala Ibukota.

Fans ultras Roma menganggap Batigol sebagai pahlawan baru Roma

Bahu membahu dengan Marco Delvechio, Vicenzo Montella, Hidetoshi Nakata, dan sang kapten Francesco Totti, apa yang diidamkan akhirnya datang kepadanya.Gelar scudetto jatuh ke pangkuan sang penyerang haus gol itu. Torehan manis 20 golnya pun menjadikan Batigol top skor klub di musim 2000/2001.

APAPUN UNTUK SEPAK BOLA

Totalitas, ketajaman, tidak kenal takut seolah sudah menjadi ciri khas permainan pria yang awalnya tidak menyukai sepak bola ini. Jika para striker modern saat ini berusaha untuk jatuh ketika tersenggol, tidak halnya dengan Batistuta. Dia bisa dengan seketika bangkit dan menghunus tajam dengan sepakan kerasnya.

Kegarangan Batistuta di Fiorentina dan Roma menjadi momok bagi lawan

Rasa sakit yang sering ia rasakan ketika pertandingan sering dikesampingkannya. Suntikan kortison (penghilang rasa sakit) menjadi sahabat karibnya saat itu. Walau imbasnya dirasakan pada usia senjanya sekarang. Kini keadaan sang legenda sudah membaik. Namun ini bisa jadi pelajaran bagaimana totalitas pemain kepada sepak bola.

Ketajaman pria penggemar olahraga polo ini pun berimbas kepada pretasinya di timnas. Rekor pencetak gol terbanyaknya dengan 54 gol, menjadi bukti sahih Batigol memberikan segalanya bagi Tim Tango. Walau rekor itu kini sudah dilampaui Lionel Messi, namun dalam segi prestasi timnas Batigol unggul dari El Messiah.

Batistuta saat berhadapan dengan Manchester United di Liga Champions

Ketika ada perdebatan yang membandingkan Batistuta dengan Messi maka hal ini menjadi menarik. Memang secara fakta rekor golnya sudah dilewati oleh Messi, namun Batigol bukanlah sosok pemain yang memutuskan pensiun karena kalah berkali-kali di kejuaraan besar. Messi boleh menjadi dianggap terbaik di dunia, namun dia belum pernah juara bersama Timnas Agentina. Dalam dua hal spesifik ini Batistuta jelas lebih baik ketimbang Leo.

Batistuta selalu total dalam membela Argentina

Bagi warga Firenze sendiri, Batistuta akan selalu dikenang sebagai pahlawan dan malaikat yang pernah singgah di Artemio Franchi. Akhir kata, mengutip dari seniman kesohor  Firenze, Michaelangelo

“Hal-Hal sepele membuat kesempurnaan, dan kesempurnaan tidak sepele” -Michaelangelo

 
Sumber : berbagai sumber
Foto : berbagai sumber

Related posts

Coutinho Menuju Jerman

Muhammad Rifqi

Kabar Transfer Terbaru Liga Dunia

Khairul Ardhi

Valverde Anggap Messi Siap Untuk United

Khairul Ardhi

Leave a Comment