iSports.id
Sepak Bola Sepak Bola Dunia

Rumput Ilalang Ajax

iSports.id – Sebelum memulai tulisan ini akan saya kutip perkataan Legenda Ajax, Johan Cruijf yang menggambarkan akademi Ajax yang berwarna.

“Sangat buruk ketika sebuah bakat ditolak karena data statistik komputer. Berdasarkan kriteria di Ajax saat ini, saya akan ditolak. Waktu saya berusia 15, saya tidak bisa menendang sejauh 15 meter dengan kaki kiri, dan 20 meter dengan kaki kanan. Kualitas, teknis, dan visi saya tidak terdeteksi oleh komputer.” –Johan Cruyff

Perkaataan Cruyff ini memang tidak salah, Ajax memang melahirkan berbagai talenta sepak bola luar biasa, di setiap eranya. Di setiap tahun, setiap musim pasti ada nama yang mencuat di Ajax dan menjadi rebutan berbagai klub top Eropa. Bakat ini tidak habis habis, satu hilang dua terbilang.

Baca juga: Bagian Kelam Sepak Bola : TPO Part I

BUDAYA AJAX

Sebelum membahas lebih jauh mari mengambil contoh beberapa nama binaan Ajax terlebih dahulu. Mari kita tarik beberapa nama dalam 10 tahun terakhir hasil binaan Ajax. Ada Thomas Vermaelen, Luis Suarez, Jan Vertonghen, Christian Eriksen, Maarten Stekelenburg, Toby Alderweireld, Daley Blind, Jasper Cillessen, Arkadiusz Milik, Davy Klaassen dan Davinson Sanchez. Ini belum termasuk beberapa nama yang tidak tenar atau generasi terbarunya macam Frenkie De jong ataupun Mathijs De Ligt.

Pembinaan Ajax sudah mulai dari usia dini

Ajax memang selalu punya stok pemain berbakat. Pergi satu, tumbuh seribu. Ajax bisa menciptakan pemain potensial dari binaan akademi sendiri maupun mendapatkan pemain berbakat yang direkrut pada usia muda untuk dipoles kemampuannya. Bakat ini tidak pernah habis, seperti layaknya Rumput Ilalang yang ketika sudah habis dibabat, lalu beberap waktu kemudian akan tumbuh lebih banyak lagi.

Hal ini memang didasari dari buadaya Ajax yang tidak pernah lepas untuk mengembangkan talenta-talenta terbaik sepakbola. Budaya ini sudah masuk dan meresap begitu dalam dan mendarah daging di akademi Ajax. Metode yang dikembangkan dalam Akademi Ajax berfokus pada pelatihan ilmiah, detail permainan, dan penyempurnaan sentuhan bola. Hasil yang diharapkan pun lebih ke bagaimana pemain mengembangkan kreativitasnya dan semangat pada diri pemain bukan tentang hasil yang didapat oleh tim.

Bakat-bakat spesial datang dari akademi Ajax

Pemantauan pemain berbakat dilakukan beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun sebelum pemain tersebut diundang untuk bergabung bersama akademi. Ajax pun akan menyimpan berkas secara rinci pada masing-masing pemain mulai dari awal pemain tersebut bergabung dengan akademi. Dalam akademi sendiri secara konsisten terus melakukan pengembangan diri pemain dan terdapat semacam kompetisi antarpemain untuk menunjukkan kualitas mereka.

Bagi para pemain yang memiliki kualitas kurang maksimal akan tersisih dan diberi kesempatan untuk menunjukkan perkembangan permainan mereka. Dengan begitu Akademi Ajax telah menempa para pemain baik secara mental maupun fisik. Latihan akan dilakukan terus menerus dan beberapa pemain akan diinstruksikan dan dididik pada tempat dan waktu yang tepat sehingga mereka pantas untuk berada di tim utama. Tuntutan pada masing-masing pemain akademi yakni pada permainan yang mudah dikenali atau berciri khas, menarik, menyerang, kreatif, cepat, dan sportif.

Filosofi bermain Ajax selalu sama dan mendarah daging

Ajax merupakan penggagas suatu model kepelatihan yang dikenal dengan TIPS yang memiliki arti T=Technique/Teknik, I=Insight/pemahaman, P=Personality/kepribadian, dan S=Speed/kecepatan.

Dalam setiap sesi latihan selalu terdapat delapan komponen penting dalam sepakbola yaitu latihan koordinasi, menendang, mengumpan dan lemparan ke dalam, pergerakan untuk mengecoh lawan, sundulan, penyelesaian akhir, penempatan bermain, dan permainan kecil agar tidak jenuh. Penggabungan beberapa metode inilah yang dengan sendirinya membentuk budaya di Ajax sehingga melekat betul dalam akademi mereka.

Baca juga: Bagian Kelam Sepak Bola: TPO Part 2

AKADEMI BINTANG

Ajax memiliki akademi sepak bola besar. Total, mereka memiliki 13 tim muda yang terbentang dari usia 7-18 tahun. Sportcomplex De Toekomst (“The Future”) merupakan nama kompleks olahraga milik Ajax Amsterdam. Di dalamnya, terbentang sembilan lapangan yang semuanya berstandar internasional. Kompleks ini pun dilengkapi dengan bangunan berlantai dua yang terdiri dari rungan gym, ruang tutor, ruang ganti, serta ruang pelatih dan staf-stafnya. Tak sekedar fasilitas latihan, kompleks olahraga ini memiliki kafe serta fasilitas lainnya yang mampu menunjang perkembangan para pemain.

Ajax juga memiliki tim sateli, Ajax Cape Town

Akademi Sepak Bola Ajax terletak tepat di samping jalan raya di distrik Amsterdam yang jauh dari kata ramai. Akademi ini memiliki delapan lapangan yang terawat dengan baik dan sebuah bangunan berlantai dua yang terdiri dari ruang ganti, ruang gym, ruang tutor, dan ruang pelatih beserta stafnya. Menghadap ke lapangan latihan terdapat sebuah kafe yang kerap menjadi tempat untuk para pemain muda mendapat makanan dengan gizi tinggi guna memastikan perkembangan mereka. Di dalam kemegahan akademi terdapat beberapa pelatih terbaik yang selalu mengajarkan teknik dan cara untuk meningkatkan kualitas permainan para pemain muda.

Para pemain pemain muda Ajax ini nantinya memang akan dijual ke klub lain, hal in pun dibilang lumrah bagi Ajax. Pemain potensial di Ajax memang seolah tinggal menunggu waktu untuk diboyong klub lain. Hal itu sudah menjadi filosofi mereka: mendapatkan dan menciptakan pemain hebat. Dua legenda sepak bola Belanda, Marc Overmars dan Edwin van der Sar, yang kini menjabat Direktur Sepakbola dan CEO Ajax mengakui hal itu. Mereka membuka pintu selebar-lebarnya buat para pemain didikan Ajax berkarier di kesebelasan lain untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar.

Bakat-bakat di Ajax tidak pernah habis

Pernah satu ketika Van der Sar bercerita, André Onana, Matthijs De Ligt, Donny van de Beek, Frenkie de Jong, Justin Kluivert, Kasper Dolberg dan David Neres pernah dikumpulkan untuk sebuah pertemuan. Mereka diperlihatkan video mereka sendiri yang kemudian dibandingkan dengan video para mantan pemain Ajax sesuai posisi mereka masing-masing. “Kami bilang pada mereka: `kalau kamu ingin jadi legenda Ajax seperti mereka, kamu harus mendapatkan sesuatu yang besar`. Di mataku, hal itu sangat menginspirasi,” ujar eks kiper Manchester United dan Juventus tersebut.

Baca juga: On This Day: Portsmouth Terkena Sanksi

TIDAK PERNAH OLENG

Filosofi ilalang ini benar-benar pas bagi Ajax. Bagaimana tidak, mereka tidak pernah oleng sedikit pun ketika ditinggal pemain terbaik mereka, seperti klub lain. Mari kita ambil contoh ketika Real Madrid saat ditinggal Cristiano Ronaldo. El Real begitu limbung, sumber gol mereka hilang, musim mereka berjalan begitu berantakan. Kembali kepada Ajax pada musim lalu, mereka sangat gemilang walau sudah ditinggal pemain bertahan sekelas Davinson Sanches.

Erik Teen Hg melanjutkan tradisi di Ajax

Musim 2018/19, Ajax memang lebih serius memperkuat tim dibanding musim-musim sebelumnya. Mereka mendatangkan Daley Blind, Dusan Tadic, Hassane Bande, Zakaria Labyad, dan Lisandro Magallan. Menurut Transfermarket total pembelanjaan mereka mencapai 50,65 juta Euro. Jumlah tersebut merupakan rekor pengeluaran terbesar Ajax sepanjang sejarah. Hasilnya mereka memberi kejutan di Liga Champions. Imbasnya lagi harga para pemain muda mereka melonjak drastis.

Lebih lanjut kenapa Ajax memang selalu stabil, karena kualitas serta pola permainan yang diterapkan dari awal usia hingga senior selalu sama. Mari ambil contoh kembali dalam Ajax versi Luis van Gaal di mana filosofi Ajax sangat kental disini. Bagi Van Gaal, para pemain muda Ajax di eranya kala itu tak boleh kelewat pamer kemampuan sebab kepentingan tim adalah segalanya.

Di era Van Gaal lahir bintang-bintang legendaris Ajax

Instruksi van Gaal cukup jelas. Seluruh pemain bergerak dalam pola yang ditetapkan. Misalnya, jika satu pemain mundur untuk menerima bola, yang lain harus berlari ke arah gawang lawan. Lalu, bila serangan tak berhasil dilakukan pada satu sisi, maka para pemain harus secepat mungkin mengubah serangan ke sisi yang lain. Semua, tegas van Gaal, dimainkan dalam batas-batas formasi 4-3-3 maupun 3-4-3.

Metode TIPS Ajax

Kualitas inilah yang memang membedakan hasil akademi binaan Ajax dengan akademi lainnya, tanpa bermaksud merendahkan hasil akademi lainnya. Ada satu kutipan dari Johan Cruyff yang ingin penulis berikan kembali, yang dirasa mewakilkan betapa pemain muda Ajax sudah kuat secara filosofis.

“Ketika kamu bermain, sudah terbukti secara statistik bahwa sebenarnya pemain hanya menyentuh bola rata-rata selama tiga menit, jadi yang paling penting adalah: apa yang kamu lakukan selama 87 menit kamu tidak mendapat bola? Itu yang menentukan apakah kamu pemain yang bagus.” –Johan Cruyff

Akhir kata ga zo door Ajax Amsterdam !!

Baca juga: Harga De Ligt Melangit?

Sumber: berbagai sumber
Foto: berbagai sumber

Related posts

Panser Bertemu Tango Berakhir Imbang

Muhammad Rifqi

Duel Seru Chelsea dan Ajax di Stamford Bridge

Muhammad Rifqi

Setelah Koscielny, Kapten Arsenal Bermasalah (Lagi)

Muhammad Rifqi

Leave a Comment